Puisi kemerdekaan Indonesia Karya Chairil Anwar

  • Whatsapp
Puisi kemerdekaan

Puisi kemerdekaan Indonesia Karya Chairil Anwar untuk menyambut hari ulang tahun proklamasi yang biasa dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus.

Selain tentang kemerdekaan , belaiu juga membuat karya karya tentang cinta, dan lain lain. Salah satu yang sangat terkenal sampai dia mendapat julukan binatang jalang yaitu dan sangat terkenal yaitu puisi Aku.

Bacaan Lainnya

Nah kali ini, karena bertepatan dengan hari ulang tahun (HUT RI) baliklagi.com sengaja akan memberikan konten dari karya Chairil Anwar yang bertemakan tentang kemerdekaan Indonesia.

Berikut contoh dari puisi kemerdekaan Indonesia karya Chairil Anwar

Krawang Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak..Merdeka..!!! dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami..
Teruskan, teruskan jiwa kami…
Menjaga Bung Karno..
menjaga Bung Hatta..
menjaga Bung Sjahrir…

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi….

Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957

Prajurit Jaga Malam

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras, bermata tajam…
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian
Ada di sisiku, selama menjaga daerah mati ini…

Aku suka pada mereka yang berani hidup…
Aku suka pada mereka yang masuk menemui malam…
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu….
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

1949

Pengarang : Chairil Anwar

Diponegoro

Di masa pembangunan ini…
Tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api..

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali….
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati…

MAJU…

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu….

Sekali berarti
Sudah itu mati….

MAJU…

Bagimu Negeri
Menyediakan api….

Punah di atas menghamba…
Binasa di atas ditindas…
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai…
Jika hidup harus merasai…

Maju…
Serbu…
Serang…
Terjang…

(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No. 8
Agustus 1954

Pos terkait